Tampilkan postingan dengan label Tips & Trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips & Trik. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Oktober 2014
Tips Sukses di Hari Pertama Bekerja
Pada saat browsing dan searching informasi lowongan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan Anda, lalu berulang kali mengirimkan lamaran kerja ke berbagai perusahaan idaman,kemudian menjalani sesi interview yang membuat jantung Anda kebat-kebit, akhirnya kabar gembira pun Anda terima. Anda diterima sebagai karyawan. Lalu Anda pun mulai mempersiapkan mental dan fisik Anda untuk menjalani pekerjaan pertama Anda. Mungkin Anda akan merasa antusias, nervous, confused, atau bahkan biasa-biasa saja.
Beragam reaksi Anda menghadapi hari pertama bekerja, Anda pasti tahu bahwa perusahaan tersebut memiliki pengharapan besar terhadap Anda. Mereka mengharapkan Anda memiliki kualifikasi sesuai dengan CV yang dikirimkan, dan sesuai dengan penilaian dari wawancara. Berikut adalah tips yang bisa membantu Anda melewati hari pertama di tempat kerja dengan sukses dan bisa memberikan kesan baik bagi perusahaan tempat Anda bekerja.
1. Jangan terlambat.
Apapun alasannya jangan sampai Anda datang terlambat karena hal tersebut menunjukkan ketidakseriusan Anda bekerja. Terlambat di hari pertama bekerja adalah ´aib´ yang akan Anda terus bawa selama Anda bekerja di perusahaan tersebut. Tinggal di kota yang rawan macet seperti Jakarta tidak bisa dijadikan alasan karena kemacetan bisa diantisipasi dengan berangkat lebih awal, atau mencari alternatif transportasi lain.
2. Kenakan busana kerja formal.
Apapun nature of business perusahaan tempat Anda bekerja, tetaplah kenakan busana kerja formal. Seiring waktu Anda bekerja di perusahaan tersebut dan Anda sudah bisa mengenali budaya perusahaan tempat Anda bekerja, barulah Anda bisa mengikuti cara mereka berpakaian. Misalnya, orang yang bekerja di bidang kreatif seperti advertising agency umumnya lebih ekspresif dalam menerapkan aturan gaya berpakaian.
3. Bersosialisasi.
Umumnya atasan Anda akan memperkenalkan Anda kepada rekan kerja Anda, namun jika tidak, perkenalkan diri Anda kepada mereka, dan jangan ragu untuk bertanya. Mereka mempunyai kewajiban untuk membantu rekan kerja.
4. Ikuti aturan main.
Mungkin ada beberapa hal dalam pekerjaan Anda berbeda dengan hal yang Anda pelajari di kampus, namun ingatlah Anda tidak memiliki kapasitas untuk merubah SOP atau hal lainnya sesuai dengan keinginan Anda. Beberapa bulan pertama adalah bukan waktu yang tepat untuk merubah apapun, kecuali jika Anda memang diminta untuk melakukannya.
5. Tetap jadi diri Anda sendiri.
Untuk beberapa hari pertama, jadilah spons. Serap segala pengetahuan baru, ketahui budaya perusahaan, perlahan-lahan Anda akan tahu apa yang diharapkan dari Anda. Jujur dengan kemampuan Anda. Jangan menyanggupi jika Anda dihadapkan pada sebuah task yang tidak Anda pahami. Kenali lingkungan Anda tanpa merubah kepribadian Anda.
6. Selalu siap menghadapi meeting.
Dihari pertama Anda mungkin akan bertemu dengan banyak pihak, siapkan selalu notepad dan alat tulis.
7. Don’t complain.
Mungkin ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan harapan Anda. Entah soal load pekerjaan yang tiba-tiba membludak atau hal sepele seperti suara AC yang berderu terlalu kencang. Apapun sebabnya, jangan gampang mengeluhkan sesuatu, bisa-bisa Anda dianggap sebagai whinger alias tukang keluh.
8. Be a team player.
Jika Anda mencantumkan kualifikasi ini dalam surat lamaran Anda, maka konsistenlah. Jika rekan kerja Anda pulang lebih lama dari, hang back dan tunggulah mereka. Jangan jadi orang pertama dalam tim Anda yang pulang. Ini juga kesempatan untuk mengenal rekan kerja lebih jauh dan mengetahui budaya perusahaan.
Remember! :
Kesan pertama selalu membentuk persepsi orang lain terhadap Anda. So berilah kesan yang terbaik kepada mereka.
Jangan Tunda Pekerjaan Anda
Apabila Anda berpikir untuk membunuh waktu, maka yang terjadi justru sebaliknya, waktulah yang akan membunuh Anda. Begitulah kira-kira yang akan dirasakan oleh orang-orang yang suka menunda pekerjaan mereka. Si tukang tunda atau procrastinator cenderung mengulur-ulur waktu pengerjaan tugas-tugas mereka sampai saat deadline-nya tiba.
Saat deadline sudah di depan mata barulah terasa kalau dalam waktu yang sempit, pekerjaan terasa begitu berat dan tekanan yang Anda hadapi terasa kebih besar. Sebuah keadaan yang sebenarnya dapat dihindari jika saja Anda menggunakan waktu dengan lebih cerdas dan efektif.
Tapi, masalah procrastinator ternyata lebih besar dari sekedar kesalahan manajemen waktu. Ada beberapa penyebab lain yang harus diperhatikan agar ´penyakit´ dapat segera disembuhkan. Bagi seorang karyawan, kebiasaan suka menunda ini merugikan perusahaan. Performa Anda bisa tercoreng karena menyerahkan pekerjaan yang dikerjakan terburu-buru, dengan hasil yang belum tentu maksimal.
Agar Anda dapat terlepas dari kebiasaan ini, ada baiknya mengikuti beberapa tips di bawah ini:
1. Kenali penyebabnya, sadari akibatnya.
Seperti kebiasaan buruk pada umumnya, procrastinator lahir akibat keyakinan yang salah terhadap sesuatu. Dan seringkali menjadi semakin parah karena sang pelaku tidak menyadarinya. Banyak alasan yang bisa dikemukakan terkait dengan penyebab Anda menunda pekerjaan. Secara general, penyebab orang menunda pekerjaan dapat dibagi menjadi 7, diantaranya: malas, perfeksionis, perasaan takut gagal, stress, manajemen waktu yang buruk, kurang motivasi, dan pekerjaan yang terlalu banyak.
2. Bangun dan mulailah dari sekarang.
Hal tersulit bagi procrastinator adalah untuk memulai. Si penunda biasanya terlalu banyak berpikir dan berkalkulasi atau justru gagal melakukan keduanya. Merencanakan pekerjaan memang bagus demi tercapainya sistem kerja yang teratur, tetapi Anda harus ingat bahwa rencana yang sempurna hanya akan menjadi angan-angan jika Anda tidak segera merealisasikannya dengan langkah pertama. Mulailah pekerjaan Anda at your peak performance time, misalnya saat tubuh dan pikiran masih fresh di pagi hari.
3. Buat skala prioritas, do the difficult first.
Susunlah tugas-tugas Anda mulai dari yang terpenting sampai yang tidak terlalu penting. Kerjakan tugas yang menurut Anda paling sulit terlebih dahulu agar bisa sedikit tenang jika di tengah jalan Anda harus mengerjakan tugas lain yang cukup menyita waktu. Setidaknya Anda sudah mengerjakan setengah dari kewajiban Anda daripada tidak sama sekali. Taatilah jadwal dan tenggat yang Anda buat sendiri. Alokasikan waktu khusus untuk istirahat agar tubuh Anda tidak protes dan merasa overwhelmed ketika mengerjakan tugas-tugas yang banyak.
4. Nobody’s perfect, jangan remehkan kemampuan diri sendiri.
Salah satu alasan klasik orang menunda pekerjaannya adalah karena takut pekerjaannya tidak diapresiasi dengan baik atau malah gagal sama sekali. Buanglah pikiran negatif bahwa Anda tidak capable melakukan suatu pekerjaan tertentu. Jika Anda merasa kurang mampu, berlatihlah atau mintalah bantuan rekan kerja. Dan ingatlah tidak semuanya harus selalu sempurna. Jika Anda seorang perfeksionis, alokasikan waktu khusus untuk mengkoreksi pekerjaan setelah deadline. Setidaknya Anda bisa mulai dengan imperfect task lalu bisa direvisi, dibandingkan menyerahkan perfect task tapi terlambat.
5. Beri penghargaan pada diri sendiri.
Terkadang menunda pekerjaan disebabkan karena ketidaksukaan pada pekerjaan yang dilakukan. Namun, hal itu tidak bisa dibiarkan karena pekerjaan adalah tanggung jawab Anda yang tetap harus dikerjakan. Untuk memotivasi Anda, berikanlah diri Anda sendiri penghargaan setelah suatu pekerjaan terselesaikan. Belajarlah untuk mencintai pekerjaan Anda, tumbuhkan motivasi dari dalam diri dengan melihat sisi positif dari pekerjaan yang Anda lakukan.
Dampak yang ditimbulkan procrastinator memang diam-diam mematikan. Selain performa dan produktifitas yang rendah, mereka juga cenderung mengalami stress. Jika Anda sudah menyadarinya, segeralah putuskan rantai kebiasaan buruk itu dengan menerapkan beberapa tips di atas atau gantilah kebiasaan menunda pekerjaan dengan kebiasaan baik yang lebih menguntungkan untuk Anda maupun perusahaan.
Remember! :
Tuhan memberikan 24 jam sehari bagi orang yang gagal maupun sukses. Perbedaannya hanya terletak pada cara mereka menggunakan waktu mereka.
Tuhan memberikan 24 jam sehari bagi orang yang gagal maupun sukses. Perbedaannya hanya terletak pada cara mereka menggunakan waktu mereka.
Tips Adaptasi di Tempat Kerja Baru
Dalam mencari kerja memang bukan pekerjaan yang mudah, baik untuk Anda yang baru lulus atau mereka yang sedang mencari pekerjaan baru. Ada serangkaian proses yang harus dijalankan dengan konsisten dan penuh strategi sebelum pekerjaan impian ada di tangan. Namun, ketika akhirnya pekerjaan itu Anda dapatkan, pernahkah Anda merasakan bahwa menjalani proses penyesuaian di tempat kerja baru tak kalah sulitnya dengan proses mencari kerja?
Untuk minggu pertama bekerja, Anda akan dihadapkan dengan berbagai tantangan dan diharapkan untuk mengatasinya dengan cepat. Tantangan yang Anda hadapi bisa saja standar operasional yang jauh berbeda, software yang membuat Anda harus belajar dari nol untuk memahaminya, rekan kerja yang kelihatannya tidak ramah, atasan yang tidak komunikatif dan berbagai sistem lain yang tidak Anda pahami.
Bisa jadi semangat yang tadinya menggebu-gebu ingin mencoba pekerjaan baru menciut menghadapi tantangan yang tampaknya terlalu banyak. Anda merasa tidak memiliki cukup waktu dan energi untuk mengatasi tantangan yang baru dan berat ini. Sebelum Anda menyesali keputusan Anda untuk pindah kerja dan kehilangan semangat untuk melanjutkan tanggung jawab baru Anda, berikut ada beberapa tips yang bisa membantu Anda beradaptasi di tempat kerja yang baru :
1. Jangan malu bertanya. Umumnya karyawan baru akan diberikan orientasi oleh HRD atau oleh atasan langsung Anda. Tanyakan langsung bila ada sesuatu yang kurang jelas dalam pekerjaan dan tanggung jawab Anda, apalagi jika Anda harus report ke beberapa orang yang berbeda. Dalam pelaksanaannya, saat Anda sudah mulai bekerja, jangan segan untuk bertanya pada atasan atau rekan kerja tentang kebiasaan atau policy yang berlaku di kantor baru. Biarkan karyawan lain tahu bahwa Anda karyawan baru sehingga mereka merasa bertanggung jawab membantu Anda. Namun ingatlah bahwa di kantor yang suasananya seringkali sibuk, terlalu sering mengajukan pertanyaan akan mengganggu pekerjaan mereka. Bijaksanalah menilai kapan mereka bisa ditanya dan leluasa untuk membantu.
2. Catat semua instruksi. Saran ini mungkin terdengar sepele, namun untuk mencegah Anda menanyakan instruksi yang sama berkali-kali, catatlah semua pada saat pertama kali diinformasikan. Biasakan membawa notepad kecil dan alat tulis kemana pun Anda pergi.
3. Ramah kepada semua orang dan bersosialisasi. Mungkin inilah salah satu hal terpenting yang memudahkan masa adaptasi Anda di tempat kerja baru. Walaupun Anda tidak berhubungan langsung dengan orang tersebut, biasakan tersenyum dan mengucapkan salam atau menyapa dengan ramah. Ciptakan reputasi bahwa Anda adalah karyawan yang approachable dan bisa diajak bekerja sama. Jika Anda tidak diperkenalkan kepada rekan kerja, jangan segan memperkenalkan diri Anda dan posisi Anda. Ingatlah nama mereka dengan jelas dan tanyakan posisi dan pekerjaan mereka jika waktu memungkinkan.
4. Ciptakan ruang personal khusus. Kemungkinan besar Anda akan ditempatkan di kubikel atau meja. Apapun bentuk work station Anda, berikan sentuhan personal seperti menambahkan foto atau pernak-pernak yang menunjukkan kepribadian Anda sehingga Anda lebih nyaman untuk bekerja. Namun ingatlah untuk tidak overboard atau berlebihan dalam menghias meja Anda.
5. Perhatikan dan dengarkan. Tata tertib atau manual pegawai yang diberikan kepada Anda biasanya tidak sama dengan praktek di lapangan. Perhatikan dengan seksama kebiasaan tak tertulis yang berlaku di kantor baru Anda seperti kebiasaan untuk menggunakan kertas bekas untuk fotokopi, atau membawa sendiri mug ke pantry setiap waktu kerja berakhir.
6. Datang lebih cepat dan pulang lebih lama. Anda tidak harus melakukan ini untuk selamanya, namun extra time memberikan Anda kesempatan untuk lebih mengenal ruangan kantor, mempelajari software baru yang akan Anda gunakan, menata meja Anda, berbincang dengan rekan kerja dalam suasana yang lebih santai, dan memahami kebiasaan tak tertulis yang berlaku di lingkungan kerja baru.
7. Stay positive. Jangan cepat berburuk sangka jika rekan kerja tidak terlihat ramah saat Anda bertanya, atau atasan yang tidak memberikan briefing yang jelas tentang tugas tertentu. Pasti ada penjelasan terhadap hal tersebut. Bersikaplah positif dengan mengingat hal-hal baik dari pekerjaan Anda seperti kesempatan untuk belajar hal baru, memperluas network Anda atau penghasilan yang lebih. Percayalah bahwa pikiran positif membantu proses transisi Anda dengan membuat Anda semangat menghadapi tantangan di tempat baru.
Remember! :
Individu yang berhasil bukanlah yang terkuat melainkan yang paling mampu menyesuaikan diri .
Tips Menghadapi Bos yang Perfeksionis
Hampir Setiap karyawan pasti berharap memiliki pemimpin yang ideal atau setidaknya mempunyai karakter yang mendekati pemimpin idaman. Secara psikologis, karyawan akan lebih senang bekerja untuk pemimpin yang memenuhi nilai-nilai subjektif tertentu yang sesuai dengan keinginan mereka. Namun, pada kenyataannya karyawan seringkali tidak bisa memilih bos mereka. Beruntunglah karyawan yang mendapatkan bos berkriteria 'baik'. Namun memiliki bos yang dikategorikan 'buruk' juga bukan berarti akhir dari segalanya.
Jika Anda merasa tertekan dengan sikap bos yang selalu mengkritik hasil kerja Anda? Mungkin maksud boss Anda baik, memperhatikan setiap detail dan ingin hasil kerja Anda sempurna. Tapi terkadang ada situasi yang membuat hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan, contohnya saat deadline mendesak dan atasan Anda masih melakukan revisi, bahkan ingin merombak total pekerjaan yang sudah dikerjakan begitu lama. Memusingkan bukan? Belum lagi tambahan kritik pedas yang cukup membuat panas telinga. Selain itu, Anda tidak leluasa bekerja karena selalu dipantau oleh sang bos yang menyimpan keraguan akan kemampuan Anda dalam mengerjakan proyek tersebut.
Merasa Lelah dengan segala kritikan kemudian menyerah bukanlah solusi yang pintar untuk karir Anda. Memutuskan untuk pindah kerja karena satu masalah ini justru bisa membuat CV Anda 'cacat'. Periode kerja yang terlalu singkat sering kali membuat calon employer meragukan kompetensi Anda. Jika Anda tahu triknya, bekerja untuk bos yang perfeksionis malah bisa memberikan pengalaman dan keterampilan tersendiri. Beberapa guidelines yang bisa membantu Anda menghadapi atasan perfeksionis adalah sebagai berikut :
Ketahui kemauannya. Orang yang perfeksionis biasanya memiliki standar sendiri bagaimana pekerjaan itu harus dilakukan. Usahakan Anda mengerti kebiasaan dan parameter kerja sempurna si bos terhadap setiap jenis pekerjaan. Perhatikan dengan seksama arahan dan petunjuknya, buat catatan sebagai panduan. Jangan ragu bertanya agar Anda mendapat gambaran sejelas-jelasnya sehingga dapat memenuhi ekspektasinya.
Antisipasi kesalahan. Bos Anda tidak akan melewatkan a single mistake. Cobalah berpikir seperti seorang perfeksionis dan cari kelemahan atau poin yang rawan kritikan dalam pekerjaan Anda. Self-criticism sangat dibutuhkan untuk meminimalisir kesalahan.
Detil dan teliti. Memiliki bos yang perfeksionis membuat Anda benar-benar harus perhatian terhadap detil. Hindari kesalahan remeh seperti salah ketik, ketidakrapian, informasi yang tidak akurat, dan lain sebagainya yang akan memicu masalah lebih besar nantinya. Jangan lupa lakukan check and recheck untuk setiap pekerjaan sebelum Anda menyerahkannya untuk direview.
Stay positive. Jika mengikuti emosi, bertahan dengan bos yang selalu menuntut memang terasa melelahkan dan menjengkelkan. Namun, sebaiknya Anda tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang personal. Malah anggap saja kritikan tersebut sebagai cambukan untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Lihatlah setiap kritikan sebagai cara belajar untuk jadi karyawan yang lebih baik.
Proaktif dan inisiatif. Jangan tunggu si bos mencari-cari kesalahan Anda. Sebisa mungkin berikan informasi sebanyak-banyaknya sebelum diminta atau ditanyakan. Hal ini sekaligus dapat memberi kesan Anda capable dan antusias mengerjakan pekerjaan tersebut sehingga bos Anda akhirnya percaya pada Anda.
Kembangkan komunikasi asertif. Kompromi dan menyesuaikan diri dengan sikap bos yang perfeksionis bukan berarti Anda harus menuruti keputusannya secara buta. Jika sikap inconsistent berulangkali ditunjukkan, mulai menjurus kepada ambisi pribadi dan sudah mulai mengganggu flow kerja lainnya, maka inilah saatnya Anda mengatakan bahwa revisi dan rombak sudah harus dihentikan. Kemukakan alasan yang logis dan masuk akal dan sampaikanlah dengan sopan.
Langganan:
Postingan (Atom)



